Senin, 03 Oktober 2016

TUGAS 2 (PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS)

TUGAS 2
PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS

1.     Lingkungan Bisnis yang Mempengaruhi Perilaku Etika
Selama beberapa puluh tahun terakhir, telah terjadi peningkatan harapan bahwa bisnis ada untuk melayani kebutuhan, baik para pemegang saham dan masyarakat.  Banyak orang mempunyai minat dalam bisnis, kegiatannya, dan dampaknya.  Pemangku kepentingan semakin berharap bahwa kegiatan perusahaan akan menghormati nilai-nilai dan minat mereka. Untuk sebagian besar, penghormatan terhadap nilai-nilai dan minat pemangku kepentingan menentukan pendirian etika dan keberhasilan perusahaan.  Akibatnya, direktur perusahaan sekarang diharapkan untuk memimpin perusahaan mereka dengan beretika, yang berarti bahwa mereka akan memperhatikan apakah eksekutif, karyawan, dan agen perusahaan bertindak secara etis.  Selain itu, perusahaan diharapkan semakin dapat bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan secara tranparan atau etis.  Kini, penilaian peforma atau kinerja meluas melampaui apa yang telah dicapai untuk mencakup bagaimana etisnya hasil tersebut tercapai.
 Akibatnya, tata kelola baru dan rezim akuntabilitas untuk bisnis dan profesi jauh lebih peduli dengan minat pemangku kepentingan dan permasalahn etika dari pada yang telah terjadi sebelumnya.  Para direktur, eksekutif, dan akuntan profesional yang sering melayani pertentangan minat pemegang saham secara langsung dan masyarakat secara tidak langsung, harus menyadari harapan masyarakat yang baru untuk bisnis dan organisasi sejenis.  Mereka harus mengelola risiko-risiko yang muncul.  Lebih dari sekedar untuk melayani rasa ingin tahu intelektual, kesadaran ini harus dikombinasikan dengan nilai-nilai tradisional dan digabungkan dalam suatu kerangka kerja untuk pengambilan keputusan etis dan tindakan.

2.     Ketergantungan antara Bisnis dan Masyarakat
Perubahan-perubahan dalam harapan masyarakat telah memicu sebuah evolusi dalam mandat untuk bisnis, yaitu harapan yang berorientasi hanya kepada laba telah diganti dengan pandangan bahwa bisnis ada untuk melayani masyarakat, bukan sebaliknya.  Bagi beberapa orang, hal tersebut merupakan perubahan yang terlalu kuat, tetapi mereka juga akan mengakui bahwa hubungan bisnis untuk masyarakat merupakan aspek yang saling bergantungan satu sama lain.

3.     Kepedulian Pelaku Bisnis Terhadap Etika
Secara jelas, harapan masyarakat telah berubah untuk menunjukan menurunnya toleransi, meningkatkan moral, kesadaran, dan harapan yang lebih tinggi dari perilaku bisnis.  Dalam merespon meningkatnya harapan-harapan ini, sejumlah pengawas dan penasihat telah muncul untuk membantu atau mendesak masyarakat umum dan bisnis.  Konsultan yang telah tersedia, bertugas untuk memberi nasihat perusahaan dan mereka yang dikenal sebagai investor, etika tentang bagaimana menyaring aktivitas-aktivitas dan investasi-investasi demi profitabilitas dan integritas etika.  Dalam menghadapi semua minatnya, politisi telah merespon dengan meningkatkan peraturan, denda, dan hukuman (baik untuk individu maupun perusahaan) yang terlibat dalam penyimpangan etika dalam bisnis.

4.     Perkembangan dalam Etika Bisnis
Beberapa konsep dan istilah telah dikembangkan yang memfasilitasi pemahaman akan evolusi yang terjadi dalam akuntabilitas bisnis dan dalam pembuatan keputusan etika.  Berikut ini adalah penjelasan mengenai perkembangan dalam etika bisnis :
a.     Pendekatan filosofis untuk etika perilaku
Umur perniagaan dan ekonomi setua zaman prasejarah ketika bisnis dilakukan berdasarkan perdagangan dan barter.  Teori-teori etika yang berhubungan dengan perilaku bisnis yang dapat diterima dan tidak dapat diterima sama tuanya walaupun artikulasi mereka dalam tradisi filsafat Barat berasal dari era Socrates.  Meskipun teori ini dikembangkan pada waktu sebelumnya, logika yang mendasari dan pelajaran-pelajaran yang tercakup dapat diterapkan pada dilema atau permasalahan bisnis saat ini.
b.     Konsep dan persyaratan etika bisnis
Ada dua perkembangan yang sangat berguna dalam memahami etika bisnis, serta bagaimana bisnis dan profesi bisa mendapatkan keuntungan dari penerapannya.  Dua perkembangan itu adalah konsep pemangku kepentingan dan suatu konsep dari kontrak sosial perusahaan.  Kepentingan beberapa orang dengan pengaruh dalam bisnis atau dampaknya, yang dipengaruhi oleh atau dapat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi harus dipertimbangkan dalam perencanaan perusahaan dan pengambilan keputusan.  Beberapa orang tersebut kemudian disebut sebagai pemangku kepentingan dan kepentingan mereka dikenal sebagai hak-hak pemangku kepentingan.  Selain itu pula akuntabilitas perusahaan telah diperluas hanya untuk melampaui pemegang saham untuk merangkul realitas pemangku kepentingan, dan mandat perusahaan telah berevolusi untuk menghormati minat dari pemangku kepentingan, sehingga memperoleh dukungan mereka.  Keuntungan harus dihasilkan, tetapi tidak merugikan masyarakat dan sebaiknya dengan cara yang mendukung komunitas masyarakat.  Hubungan antara perusahaan dan masyarakat telah dikenal dalam suatu konsep sebagai kontrak sosial perusahaan.
c.      Pendekatan untuk pengambilan keputusan etis
Perkembangan akuntabilitas terhadap pemangku kepentingan dalam versi kontrak sosial perusahaan yang terbaru telah menjadikan eksekutif bertanggung jawab untuk memastikan bahwa keputusan mereka mencerminkan nilai-nilai etika yang diterapkan untuk perusahaan, dan tidak meninggalkan pertimbangan hak-hak pemangku kepentingan mana pun yang signifikan.  Hal ini menyebabkan perkembangan pengambilan keputusan etis yang menggabungkan kedua pendekatan filosofis dan teknik praktis, seperti analisis dampak pemangku kepentingan.  Etika prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para filsuf memberikan wawasan ke dalam dimensi kunci dari etika penalaran.  Para pembuat keputusan harus memahami tiga pendekatan filosofis dasar yaitu konsekuensialisme, deontologi, dan etika kebajikan.

5.     Etika Bisnis dan Akuntan
Kegagalan Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom akan membawa perubahan mendasar dalam peran dan perilaku akuntan-akuntan profesional yang telah lupa dimana tugas utama mereka diberikan.  Akuntan profesional berutang loyalitas utama mereka pada kepentingan umum, tidak hanya untuk kepentingan finansial diri mereka sendiri, direktur atau manajemen perusahaan, atau para pemegang saham saat ini dengan mengorbankan para pemegang saham di masa depan.  Reformasi, melalui struktur peraturan dan pengawasan baru, serta harmonisasi standar pengungkapan secara internasional dan revisi kode etik yang mendedikasikan kembali profesi akuntan ke akar fidusia aslinya, telah menjadi penguatan penting yang akan mempengaruhi perilaku akuntansi profesional di seluruh dunia. 
Apresiasi terhadap berlangsungnya arus perubahan dalam etika lingkungan untuk bisnis merupakan hal yang penting untuk memahami suatu informasi tentang bagaimana akuntan profesional harus menafsirkan kode profesi mereka sebagai karyawan perusahaan.  Meskipun masyarakat mengharapkan semua akuntan profesional menghormati nilai-nilai profesional dari objektivitas, integritas, dan kerahasiaan, yang dirancang untuk melindungi hak-hak dasar masyarakat, seorang akuntan-karyawan harus merespon arah manajemen dan kebutuhan para pemegang saham saat ini.  Akuntan profesional harus memastikan bahwa nilai-nilai etika mereka mutakhir dan bahwa mereka disiapkan untuk bertindak pada nilai-nilai tersebut untuk menguji peran mereka, serta untuk menjaga kredibilitas dan dukungan untuk profesi.


Sumber :

Brooks, Leonard J.  Dunn, Paul.  Etika Bisnis & Profesi (untuk Direktur, Eksekutif, dan Akuntan).  Jakarta.  Salemba Empat.  2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar