TUGAS
2
PERILAKU
ETIKA DALAM BISNIS
1. Lingkungan
Bisnis yang Mempengaruhi Perilaku Etika
Selama
beberapa puluh tahun terakhir, telah terjadi peningkatan harapan bahwa bisnis
ada untuk melayani kebutuhan, baik para pemegang saham dan masyarakat. Banyak orang mempunyai minat dalam bisnis,
kegiatannya, dan dampaknya. Pemangku kepentingan
semakin berharap bahwa kegiatan perusahaan akan menghormati nilai-nilai dan
minat mereka. Untuk sebagian besar, penghormatan terhadap nilai-nilai dan minat
pemangku kepentingan menentukan pendirian etika dan keberhasilan
perusahaan. Akibatnya, direktur
perusahaan sekarang diharapkan untuk memimpin perusahaan mereka dengan
beretika, yang berarti bahwa mereka akan memperhatikan apakah eksekutif,
karyawan, dan agen perusahaan bertindak secara etis. Selain itu, perusahaan diharapkan semakin
dapat bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan secara tranparan atau
etis. Kini, penilaian peforma atau
kinerja meluas melampaui apa yang telah dicapai untuk mencakup bagaimana
etisnya hasil tersebut tercapai.
Akibatnya, tata kelola baru dan rezim
akuntabilitas untuk bisnis dan profesi jauh lebih peduli dengan minat pemangku
kepentingan dan permasalahn etika dari pada yang telah terjadi sebelumnya. Para direktur, eksekutif, dan akuntan
profesional yang sering melayani pertentangan minat pemegang saham secara
langsung dan masyarakat secara tidak langsung, harus menyadari harapan
masyarakat yang baru untuk bisnis dan organisasi sejenis. Mereka harus mengelola risiko-risiko yang
muncul. Lebih dari sekedar untuk
melayani rasa ingin tahu intelektual, kesadaran ini harus dikombinasikan dengan
nilai-nilai tradisional dan digabungkan dalam suatu kerangka kerja untuk
pengambilan keputusan etis dan tindakan.
2. Ketergantungan
antara Bisnis dan Masyarakat
Perubahan-perubahan dalam harapan masyarakat telah memicu
sebuah evolusi dalam mandat untuk bisnis, yaitu harapan yang berorientasi hanya
kepada laba telah diganti dengan pandangan bahwa bisnis ada untuk melayani
masyarakat, bukan sebaliknya. Bagi beberapa
orang, hal tersebut merupakan perubahan yang terlalu kuat, tetapi mereka juga akan
mengakui bahwa hubungan bisnis untuk masyarakat merupakan aspek yang saling
bergantungan satu sama lain.
3. Kepedulian
Pelaku Bisnis Terhadap Etika
Secara jelas, harapan masyarakat telah berubah untuk
menunjukan menurunnya toleransi, meningkatkan moral, kesadaran, dan harapan
yang lebih tinggi dari perilaku bisnis. Dalam
merespon meningkatnya harapan-harapan ini, sejumlah pengawas dan penasihat
telah muncul untuk membantu atau mendesak masyarakat umum dan bisnis. Konsultan yang telah tersedia, bertugas untuk
memberi nasihat perusahaan dan mereka yang dikenal sebagai investor, etika
tentang bagaimana menyaring aktivitas-aktivitas dan investasi-investasi demi
profitabilitas dan integritas etika. Dalam
menghadapi semua minatnya, politisi telah merespon dengan meningkatkan
peraturan, denda, dan hukuman (baik untuk individu maupun perusahaan) yang
terlibat dalam penyimpangan etika dalam bisnis.
4. Perkembangan
dalam Etika Bisnis
Beberapa konsep dan istilah telah dikembangkan yang
memfasilitasi pemahaman akan evolusi yang terjadi dalam akuntabilitas bisnis
dan dalam pembuatan keputusan etika. Berikut
ini adalah penjelasan mengenai perkembangan dalam etika bisnis :
a. Pendekatan
filosofis untuk etika perilaku
Umur perniagaan dan ekonomi setua zaman
prasejarah ketika bisnis dilakukan berdasarkan perdagangan dan barter. Teori-teori etika yang berhubungan dengan
perilaku bisnis yang dapat diterima dan tidak dapat diterima sama tuanya
walaupun artikulasi mereka dalam tradisi filsafat Barat berasal dari era
Socrates. Meskipun teori ini
dikembangkan pada waktu sebelumnya, logika yang mendasari dan
pelajaran-pelajaran yang tercakup dapat diterapkan pada dilema atau
permasalahan bisnis saat ini.
b. Konsep
dan persyaratan etika bisnis
Ada dua
perkembangan yang sangat berguna dalam memahami etika bisnis, serta bagaimana
bisnis dan profesi bisa mendapatkan keuntungan dari penerapannya. Dua perkembangan itu adalah konsep pemangku
kepentingan dan suatu konsep dari kontrak sosial perusahaan. Kepentingan beberapa orang dengan pengaruh
dalam bisnis atau dampaknya, yang dipengaruhi oleh atau dapat mempengaruhi
pencapaian tujuan organisasi harus dipertimbangkan dalam perencanaan perusahaan
dan pengambilan keputusan. Beberapa orang
tersebut kemudian disebut sebagai pemangku kepentingan dan kepentingan mereka
dikenal sebagai hak-hak pemangku kepentingan.
Selain itu pula akuntabilitas perusahaan telah diperluas hanya untuk melampaui
pemegang saham untuk merangkul realitas pemangku kepentingan, dan mandat
perusahaan telah berevolusi untuk menghormati minat dari pemangku kepentingan,
sehingga memperoleh dukungan mereka. Keuntungan
harus dihasilkan, tetapi tidak merugikan masyarakat dan sebaiknya dengan cara
yang mendukung komunitas masyarakat. Hubungan
antara perusahaan dan masyarakat telah dikenal dalam suatu konsep sebagai
kontrak sosial perusahaan.
c. Pendekatan
untuk pengambilan keputusan etis
Perkembangan akuntabilitas terhadap
pemangku kepentingan dalam versi kontrak sosial perusahaan yang terbaru telah
menjadikan eksekutif bertanggung jawab untuk memastikan bahwa keputusan mereka
mencerminkan nilai-nilai etika yang diterapkan untuk perusahaan, dan tidak
meninggalkan pertimbangan hak-hak pemangku kepentingan mana pun yang
signifikan. Hal ini menyebabkan
perkembangan pengambilan keputusan etis yang menggabungkan kedua pendekatan
filosofis dan teknik praktis, seperti analisis dampak pemangku kepentingan. Etika prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh
para filsuf memberikan wawasan ke dalam dimensi kunci dari etika
penalaran. Para pembuat keputusan harus
memahami tiga pendekatan filosofis dasar yaitu konsekuensialisme, deontologi,
dan etika kebajikan.
5. Etika
Bisnis dan Akuntan
Kegagalan Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom akan
membawa perubahan mendasar dalam peran dan perilaku akuntan-akuntan profesional
yang telah lupa dimana tugas utama mereka diberikan. Akuntan profesional berutang loyalitas utama
mereka pada kepentingan umum, tidak hanya untuk kepentingan finansial diri
mereka sendiri, direktur atau manajemen perusahaan, atau para pemegang saham
saat ini dengan mengorbankan para pemegang saham di masa depan. Reformasi, melalui struktur peraturan dan
pengawasan baru, serta harmonisasi standar pengungkapan secara internasional
dan revisi kode etik yang mendedikasikan kembali profesi akuntan ke akar fidusia
aslinya, telah menjadi penguatan penting yang akan mempengaruhi perilaku
akuntansi profesional di seluruh dunia.
Apresiasi terhadap berlangsungnya arus perubahan dalam
etika lingkungan untuk bisnis merupakan hal yang penting untuk memahami suatu informasi
tentang bagaimana akuntan profesional harus menafsirkan kode profesi mereka
sebagai karyawan perusahaan. Meskipun masyarakat
mengharapkan semua akuntan profesional menghormati nilai-nilai profesional dari
objektivitas, integritas, dan kerahasiaan, yang dirancang untuk melindungi
hak-hak dasar masyarakat, seorang akuntan-karyawan harus merespon arah
manajemen dan kebutuhan para pemegang saham saat ini. Akuntan profesional harus memastikan bahwa
nilai-nilai etika mereka mutakhir dan bahwa mereka disiapkan untuk bertindak
pada nilai-nilai tersebut untuk menguji peran mereka, serta untuk menjaga
kredibilitas dan dukungan untuk profesi.
Sumber :
Brooks, Leonard J.
Dunn, Paul. Etika Bisnis &
Profesi (untuk Direktur, Eksekutif, dan Akuntan). Jakarta.
Salemba Empat. 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar