TUGAS 1
ETIKA SEBAGAI TINJAUAN
1. Menurut Leonard
J. Brooks & Paul Dunn dalam Etika Bisnis & Profesi (2014 : 152),
Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penilaian normatif tentang
apakah perilaku ini benar atau apa yang seharusnya dilakukan. Etika merupakan pembelajaran tentang
norma-norma dan nilai-nilai yang berkaitan dengan salah dan benar, baik dan
buruk, seperti yang harus kita lakukan dan tindakan apa yang harus kita
hindari.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka
etika itu berasal dari norma-norma yang sudah ada di masyarakat. Etika juga merupakan suatu standar berperilaku
yang tidak tertulis yang harus kita gunakan dalam bersosialisasi setiap
harinya. Tujuan dari adanya etika ini
sangat baik menurut saya, karena dengan adanya etika kita bisa tahu mana
perilaku yang baik maupun yang tidak baik.
2. Prinsip-prinsip etika profesi dalam
akuntansi (Mulyadi, 2001 : 53) adalah sebagai berikut :
a.
Tanggung
jawab profesi
Menurut
saya tangung jawab profesi di sini maksudnya adalah bahwa setiap profesi apapun
baik di bidang akuntansi atau bukan, harus tetap bertanggung jawab atas profesi
pekerjaan yang sedang ditekuninya. Hal
ini dilakukan agar hasil dari pekerjaan kita tersebut bisa baik dan maksimal.
b.
Kepentingan
publik
Menurut
saya prinsip yang kedua ini adalah bahwa setiap profesi harus tetap
mendahulukan kepentingan publik atau pengguna jasanya dari pada kepentingan
pribadinya bahkan kepentingan kelompok/organisasi tempat ia bekerja. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan
kepercayaan dari publik sebagai pengguna jasa profesi yang kita tekuni.
c.
Integritas
Menurut
saya prinsip ketiga ini adalah penilaian yang diberikan oleh publik terhadap
suatu profesi. Integritas yang tinggi
yang sangat diharapkan oleh publik dari seorang profesi, terlebih profesi yang
memberikan jasa kepada publik.
Integritas disini antara lain meliputi kejujuran, keterbukaan atas
informasi kepada publik dan dapat dipercaya oleh publik.
d.
Obyektivitas
Menurut
saya prinsip ini adalah bagaimana seorang profesi memandang suatu pekerjaan
yang akan dilakukannya. Jika profesi
tersebut menghasilkan jasa maka pandangan seorang profesi terhadap hasil
pekerjaannya nanti bukan dilihat dari siapa atau subyek yang menjadi pengguna
jasa profesi tersebut, melainkan melihat tujuan akhir atau output atau obyek dari
pekerjaan profesi tersebut.
e.
Kompetensi
dan kehati-hatian profesional
Menurut
saya prinsip ini adalah kompetensi adalah kemampuan atau keterampilan serta
pengetahuan dari seorang profesi yang harus tetap dijaga dan terus dikembangkan
sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Sehingga seorang profesi masih bisa tetap
menjaga kredibilitas atau nama baiknya dalam suatu profesi. Selain itu untuk menjaga nama baik dan
kompetensi tersebut seorang profesi harus tetap berhati-hati dalam melakukan
segala aktivitas profesinya setiap hari.
f.
Kerahasiaan
Menurut
saya prinsip ini adalah seorang profesi harus tetap bisa menjaga kerahasiaan
dari si pengguna jasa profesinya.
Menjaga kerahasiaan disini adalah untuk tetap menjaga integritas seorang
profesi dimata publik atau pengguna jasa profesi tersebut.
g.
Perilaku
profesional
Menurut
saya prinsip ini adalah seorang profesi harus tetap menjaga etika dari
profesinya agar nama baik profesinya secara sebagian maupun keseluruhan juga
tetap terjaga baiknya. Bahkan dengan
perilaku profesional yang baik sebuah profesi bisa semakin berkembang pesat dan
mendapat kepercayaan yang besar dari publik.
h.
Standar
teknis
Menurut
saya prinsip ini adalah bahwa setiap profesi sudah pasti memiliki standar teknik
pelaksanaan kegiatan profesinya sendiri.
Standar teknis ini ada yang bersifat tertulis melalui peraturan
perundang-undangan yang menyangkut profesi tersebut, maupun etika atau norma
yang sudah lama melekat dari sebuah profesi.
Standar teknis ini menjadi acuan bagi seorang profesi dalam menjalankan
segala aktivitas profesinya, baik bagi pemula maupun bagi yang sudah mahir.
3. Berikut ini adalah beberapa teori yang
berpengaruh terhadap etika :
a.
Utilitarianisme
Teori
ini mendefinisikan kebaikan dan kejahatan dalam hal konsekuensi non etika dari
kesenangan dan rasa sakit. Tindakan yang
benar secara etika adalah salah satu yang akan menghasilkan jumlah kesenangan
terbesar atau jumlah rasa sakit terkecil.
Tujuan hidup adalah untuk menjadi bahagia dan semua hal yang
meningkatkan kebahagiaan baik secara etika karena cenderung menghasilkan
kesenangan atau meringankan rasa sakit dan penderitaan.
Maksud
dari teori ini adalah apabila kita melakukan etika dengan baik maka akan
menimbulkan rasa senang atau bahagia dalam diri kita. Sebaliknya jika kita melakukan sesuatu tidak
sesuai dengan etika maka akan menimbulkan rasa sedih atau rasa sakit pada perasaaan
kita.
b.
Deontologi
Paham
Deontologi mengatakan bahwa etis atau tidaknya suatu tindakan tidak ada
kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau akibat dari tindakan
tersebut. Konsekuensi suatu tindakan
tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu
tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah
menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil
baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan
hanya karena kita wajib melaksanakan tindakan tersebut demi kewajiban itu
sendiri.
Maksud
dari teori ini adalah bahwa seseorang melakukan sesuatu berdasarkan etika bukan
karena hasil akhirnya yang dilihat, melainkan dilihat dari sisi kewajiban bahwa
setiap orang harus berbuat baik sesuai etika yang ada.
c.
Teori
hak
Teori
Hak mengatakan bahwa suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan
atau tindakan tersebut sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Teori Hak didasarkan atas asumsi bahwa
manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama. Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa
sumber otoritas, yaitu : hak hukum, hak moral atau kemanusiaan, dan hak
kontraktual.
Maksud
dari teori ini adalah perbuatan yang baik yang sesuai dengan etika yang ada
harus sesuai pula dengan hak asasi manusia tersebut.
d.
Teori
keutamaan
Teori
ini mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar
bisa disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang
mencerminkan manusia hina. Dengan demikian
karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang
telah melekat /dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu
bertingkah laku yang secara moral dinilai baik.
Menurut
teori ini seseorang yang melakukan perbuatan sesuai dengan etika akan
menghasilkan penilaian yang baik dari manusia baik, sehingga dapat mencerminkan
manusia utama. Sedangkan manusia yang
berbuat tidak sesuai dengan etika maka akan memperoleh penilaian yang tidak
baik dari manusia lain maka akan mencerminkan manusia tidak baik/hina.
e.
Teori
etika teonom
Teori
ini mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh
kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah.
Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak
Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti
aturan-aturan/perintah Allah sebagaimana telah dituangkan dalam kitab suci.
Menurut
teori ini penilaian perbuatan baik dan buruk tidak hanya dilihat dari sisi kesesuaian
dengan etika yang ada, tetapi lebih kepada penilaian yang sesuai deng
aturan-aturan/perintah agama masing-masing yang sudah tertera jelas di dalam
kitab suci masing-masing agama.
4. Egoisme
Teori ini memiliki dua konsep, yaitu
Egoisme psikologis dan Egoisme etis. Egoism
psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia
dimotivasi oleh kepentingan berkutat
diri (selfish). Menurut teori ini,
orang boleh saja yakin bahwa ada tindakan mereka yan bersifat luhur dan suka
berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan/atau tindakan yang suka
berkorban tersebut hanyalah ilusi. Pada kenyataannya,
setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri.
Egoism etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Yang membedakan tindakan berkutat diri dengan
tindakan untuk kepentingan diri adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri sering mengabaikan
atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri
sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
Menurut teori ini sebuah etika
dilaksanakan oleh seseorang didasari oleh rasa egois yang ada didalam diri
manusia tersebut. Egois disini ada
kalanya membuat seseorang melakukan sesuatu yang akibatnya dapat merugikan
kepentingan orang lain. Tetapi menurut
teori ini pula ada kalanya egois tersebut tidak selalu merugikan kepentingan
orang lain.
Sumber :
1. Brooks, J.
Leonard; Dunn, Paul. Etika Bisnis &
Profesi. Jakarta. Salemba Empat. 2014.
Diakses pada : Senin, 26 Sept 2016 pada
Jam 20.54 WIB.
3. Agoes,
Sukrisno; Ardana, I Cenik. Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta.
Salemba Empat. 2009.
