Selasa, 27 September 2016

TUGAS 1 (ETIKA SEBAGAI TINJAUAN)

TUGAS 1
ETIKA SEBAGAI TINJAUAN

1.    Menurut Leonard J. Brooks & Paul Dunn dalam Etika Bisnis & Profesi (2014 : 152), Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penilaian normatif tentang apakah perilaku ini benar atau apa yang seharusnya dilakukan.  Etika merupakan pembelajaran tentang norma-norma dan nilai-nilai yang berkaitan dengan salah dan benar, baik dan buruk, seperti yang harus kita lakukan dan tindakan apa yang harus kita hindari.
       Berdasarkan penjelasan di atas, maka etika itu berasal dari norma-norma yang sudah ada di masyarakat.  Etika juga merupakan suatu standar berperilaku yang tidak tertulis yang harus kita gunakan dalam bersosialisasi setiap harinya.  Tujuan dari adanya etika ini sangat baik menurut saya, karena dengan adanya etika kita bisa tahu mana perilaku yang baik maupun yang tidak baik.

2.    Prinsip-prinsip etika profesi dalam akuntansi (Mulyadi, 2001 : 53) adalah sebagai berikut :
a.      Tanggung jawab profesi
Menurut saya tangung jawab profesi di sini maksudnya adalah bahwa setiap profesi apapun baik di bidang akuntansi atau bukan, harus tetap bertanggung jawab atas profesi pekerjaan yang sedang ditekuninya.  Hal ini dilakukan agar hasil dari pekerjaan kita tersebut bisa baik dan maksimal.
b.      Kepentingan publik
Menurut saya prinsip yang kedua ini adalah bahwa setiap profesi harus tetap mendahulukan kepentingan publik atau pengguna jasanya dari pada kepentingan pribadinya bahkan kepentingan kelompok/organisasi tempat ia bekerja.  Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan kepercayaan dari publik sebagai pengguna jasa profesi yang kita tekuni.
c.      Integritas
Menurut saya prinsip ketiga ini adalah penilaian yang diberikan oleh publik terhadap suatu profesi.  Integritas yang tinggi yang sangat diharapkan oleh publik dari seorang profesi, terlebih profesi yang memberikan jasa kepada publik.  Integritas disini antara lain meliputi kejujuran, keterbukaan atas informasi kepada publik dan dapat dipercaya oleh publik.
d.      Obyektivitas
Menurut saya prinsip ini adalah bagaimana seorang profesi memandang suatu pekerjaan yang akan dilakukannya.  Jika profesi tersebut menghasilkan jasa maka pandangan seorang profesi terhadap hasil pekerjaannya nanti bukan dilihat dari siapa atau subyek yang menjadi pengguna jasa profesi tersebut, melainkan melihat tujuan akhir atau output atau obyek dari pekerjaan profesi tersebut.
e.      Kompetensi dan kehati-hatian profesional
Menurut saya prinsip ini adalah kompetensi adalah kemampuan atau keterampilan serta pengetahuan dari seorang profesi yang harus tetap dijaga dan terus dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.  Sehingga seorang profesi masih bisa tetap menjaga kredibilitas atau nama baiknya dalam suatu profesi.  Selain itu untuk menjaga nama baik dan kompetensi tersebut seorang profesi harus tetap berhati-hati dalam melakukan segala aktivitas profesinya setiap hari.
f.       Kerahasiaan
Menurut saya prinsip ini adalah seorang profesi harus tetap bisa menjaga kerahasiaan dari si pengguna jasa profesinya.  Menjaga kerahasiaan disini adalah untuk tetap menjaga integritas seorang profesi dimata publik atau pengguna jasa profesi tersebut.
g.      Perilaku profesional
Menurut saya prinsip ini adalah seorang profesi harus tetap menjaga etika dari profesinya agar nama baik profesinya secara sebagian maupun keseluruhan juga tetap terjaga baiknya.  Bahkan dengan perilaku profesional yang baik sebuah profesi bisa semakin berkembang pesat dan mendapat kepercayaan yang besar dari publik.
h.      Standar teknis
Menurut saya prinsip ini adalah bahwa setiap profesi sudah pasti memiliki standar teknik pelaksanaan kegiatan profesinya sendiri.  Standar teknis ini ada yang bersifat tertulis melalui peraturan perundang-undangan yang menyangkut profesi tersebut, maupun etika atau norma yang sudah lama melekat dari sebuah profesi.  Standar teknis ini menjadi acuan bagi seorang profesi dalam menjalankan segala aktivitas profesinya, baik bagi pemula maupun bagi yang sudah mahir.

3.    Berikut ini adalah beberapa teori yang berpengaruh terhadap etika :
a.      Utilitarianisme
Teori ini mendefinisikan kebaikan dan kejahatan dalam hal konsekuensi non etika dari kesenangan dan rasa sakit.  Tindakan yang benar secara etika adalah salah satu yang akan menghasilkan jumlah kesenangan terbesar atau jumlah rasa sakit terkecil.  Tujuan hidup adalah untuk menjadi bahagia dan semua hal yang meningkatkan kebahagiaan baik secara etika karena cenderung menghasilkan kesenangan atau meringankan rasa sakit dan penderitaan.
Maksud dari teori ini adalah apabila kita melakukan etika dengan baik maka akan menimbulkan rasa senang atau bahagia dalam diri kita.  Sebaliknya jika kita melakukan sesuatu tidak sesuai dengan etika maka akan menimbulkan rasa sedih atau rasa sakit pada perasaaan kita.
b.      Deontologi
Paham Deontologi mengatakan bahwa etis atau tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau akibat dari tindakan tersebut.  Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan.  Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik.  Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya karena kita wajib melaksanakan tindakan tersebut demi kewajiban itu sendiri.
Maksud dari teori ini adalah bahwa seseorang melakukan sesuatu berdasarkan etika bukan karena hasil akhirnya yang dilihat, melainkan dilihat dari sisi kewajiban bahwa setiap orang harus berbuat baik sesuai etika yang ada.
c.      Teori hak
Teori Hak mengatakan bahwa suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM).  Teori Hak didasarkan atas asumsi bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama.  Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas, yaitu : hak hukum, hak moral atau kemanusiaan, dan hak kontraktual.
Maksud dari teori ini adalah perbuatan yang baik yang sesuai dengan etika yang ada harus sesuai pula dengan hak asasi manusia tersebut.
d.      Teori keutamaan
Teori ini mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia hina.  Dengan demikian karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah melekat /dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang secara moral dinilai baik.
Menurut teori ini seseorang yang melakukan perbuatan sesuai dengan etika akan menghasilkan penilaian yang baik dari manusia baik, sehingga dapat mencerminkan manusia utama.  Sedangkan manusia yang berbuat tidak sesuai dengan etika maka akan memperoleh penilaian yang tidak baik dari manusia lain maka akan mencerminkan manusia tidak baik/hina.
e.      Teori etika teonom
Teori ini mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah.  Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan-aturan/perintah Allah sebagaimana telah dituangkan dalam kitab suci.
Menurut teori ini penilaian perbuatan baik dan buruk tidak hanya dilihat dari sisi kesesuaian dengan etika yang ada, tetapi lebih kepada penilaian yang sesuai deng aturan-aturan/perintah agama masing-masing yang sudah tertera jelas di dalam kitab suci masing-masing agama.

4.    Egoisme
Teori ini memiliki dua konsep, yaitu Egoisme psikologis dan Egoisme etis.  Egoism psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (selfish).  Menurut teori ini, orang boleh saja yakin bahwa ada tindakan mereka yan bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan/atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah ilusi.  Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri.  Egoism etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest).  Yang membedakan tindakan berkutat diri dengan tindakan untuk kepentingan diri adalah pada akibatnya terhadap orang lain.  Tindakan berkutat diri sering mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
Menurut teori ini sebuah etika dilaksanakan oleh seseorang didasari oleh rasa egois yang ada didalam diri manusia tersebut.  Egois disini ada kalanya membuat seseorang melakukan sesuatu yang akibatnya dapat merugikan kepentingan orang lain.  Tetapi menurut teori ini pula ada kalanya egois tersebut tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

      
Sumber :
1. Brooks, J. Leonard; Dunn, Paul.  Etika Bisnis & Profesi.  Jakarta.  Salemba Empat.  2014.
       Diakses pada : Senin, 26 Sept 2016 pada Jam 20.54 WIB.

3. Agoes, Sukrisno; Ardana, I Cenik. Etika Bisnis dan Profesi.  Jakarta.  Salemba Empat. 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar